Selasa, 05 Oktober 2010

DaraH

Laporan Praktikum

Fisiologi Ternak Dasar

DARAH III & IV

Oleh:

Nama : Astrini Padapi

Stambuk : I311 08 279

Kelompok : III (Tiga)

Asisten : Andi Purnama

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2010

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pada dasarnya darah merupakan cairan yang berada dalam tubuh manusia maupun hewan yang berfungsi sebagai alat transportasi zat-zat dalam tubuh, seperti O2, CO2, hormon, dan lain sebagainya. Selain itu darah juga meupakan suatu faktor kehidupan. Tanpa darah didalam tubuh mahluk hidup (manusia maupun hewan), maka mahluk hidup hidup tersebut tidak akan mendapatkan energi yang berasal dari Oksigen.

Hemoglobin merupakan suatu zat organik yang terdapat dalam sel darah merah yang berfungsi untuk mengikat oksigen dalam darah. Hemoglobin merupakan zat yang menentukan warna pada darah yang berhubungan dengan nilai hematokrit, sel darah merah, dan sel darah putih. Darah yang merupakan cairan dengan volume yang berbeda-beda tergantung pada jenis kelamin, ukuran tubuh, dan umur yang setiap saat beredar ke seluruh bagian tubuh. Menghitung jumlah sel darah merah dan sel darah putih sangat penting untuk diketahui agar dapat mengetahui tingkat kekabalan seseorang yang memiliki antibodi untuk melawan suatu jenis penyakit. Untuk lebih jelasnya sehingga dilakukan praktikum tentang darah untuk menentukan kadar hemoglobin dalam darah, nilai hematokrit, serta menghitung jumlah sel darah merah dan sel darah putih.

Tujuan dan Kegunaan

A. Kadar Hemoglobin

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui kadar hemoglobin normal dalam darah seseorang dan faktor-faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin normal.

Kegunaan dari praktikum ini adalah agar kita dapat mengetahui cara menghitung kadar hemoglobin dalam darah dan dapat menguasai penggunaan alat-alat penghitung kadar hemoglobin darah dengan cara sahli.

B. Nilai Hematokrit

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menghitung seberapa besar kadar hematokrit yang terdapat dalam darah serta faktor yang mempengaruhi kadar hematokrit darah.

Kegunaan dari praktikum mengenai ini adalah agar kita dapat mengetahui cara menentukan nilai hematokrit dan faktor apa saja yang mempengaruhi kadar hematokrit darah.

C. Menghitung Jumlah Sel Darah Merah

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menghitung jumlah sel darah merah jumlah normal sel darah merah dan faktor yang mempengaruhinya.

Kegunaan dari praktikum ini adalah agar kita dapat mengetahui jumlah sel darah merah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

D. Menghitung Jumlah Sel Darah Putih.

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menghitung jumlah sel darah putih normal dari sampel darah yang digunakan.

Kegunaan dari praktikum ini adalah agar kita mengetahui jumlah sel darah putih dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

METODOLOGI PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat

Praktikum Fisiologi Ternak Dasar mengenai Penentuan Kadar Hemoglobin dan Nilai Hematokrit serta Penghitungan Sel Darah Merah dan Sel Darah Putih yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 6 Maret 2010 pukul 08.00 WITA sampai selesai, bertempat di Laboratorium Fisiologi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar.

Materi Praktikum

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah tabung sahli, pipa haemometer, kamar hitung, lansedpen, pipet penghisap, pipa kapiler berheparin, cover glass, skala mikrohematokrit, mikroskop, dan microcentrifuge.

Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah larutan hayem, larutan turk, alkohol, kapas, aquades, malam(wax), HCl 0,1 N, dan sampel darah manusia.

Metode Praktikum

A. Kadar Hemoglobin

1. Cara Sahli

Mengisi larutan HCl 0,1 N sampai garis bawah ke dalam tabung sahli. Kemudian menghisap darah yang keluar dari jari dengan pipa haemometer sampai garis 20 mm dan mencatat waktunya. Setelah itu meniup darah tadi ke dalam tabung tanpa ada gelembung udara. Mengocok tabung dann membiarkannya selama kurang lebih 5 menit hingga terbentuk warna cokelat. Kemudian meneteskan aquades setetes demi setetes sambil diaduk sampai warnanya sama dengan warna kaca standar pada tabung sahli. Mencatat seberapa tinggi cairan tersebut lalu menghitung kadar Hb dalam per 100 ml darah. Kemudian catat hasilnya pada table pengamatan.

2. Kertas Skala Hb

Menusuk ujung jari dengan lansippen kemudian darah yang keluar diseka dengan kertas saring, setelah itu menentukan kadar hemoglobin darah dengan melihat standar nilai hemoglobin pada kertas skala. Kemudian catat hasilnya pada tabel pengamatan.

B. Kadar Nilai Hematokrit

Cara Mikro-Hematokrit dari Van Allen.

Tempatkan ujung pipa kapiler pada tempat perlakuan (ujung jari). Biarkan darah masuk dengan sendirinya sampai ± 4/5 bagian dari panjang pipa. Menutup ujung pipa tadi dengan malam (wax), selanjutnya kita centrifuge pada kecepatan 300 rpm selama 10 menit. Setelah itu membaca hasil yang telah dicapai dalam per 100 ml darah. Kemudian catat hasilnya pada table pengamatan.

C. Menghitung Jumlah Sel Darah Merah

Menghisap darah dengan menggunakan pipet sel darah merah kemudian menghisap cairan hayem sampai 101. Melepaskan pembuluh karet dari pipet kemudian mengocoknya dengan hati-hati membuat angka delapan selama 1- 2 menit. Sebelum diteteskan ke dalam kamar hitung, lima tetes darah di dalam kapiler harus dibuang, lalu selanjutnya membersihkan kamar tersebut terlebih dahulu Setelah itu meletakkan ujung pipet di atas kamar hitung dengan kemiringan 30 - 35º selama 2-3 menit agar sel-sel darah mengendap dan tetap tempatnya. Kemudian memeriksa sampel darah tersebut di bawah mikroskop. Dengan perbesaran 40 x.

D. Menghitung Jumlah Sel Darah Putih

Menghisap darah sampai tanda 0,5 kemudian menghisap larutan turk sampai angka 11 dengan hati-hati. Melepaskan pembuluh karet dari pipet lalu memegangnya dengan ibu jari dan jari telunjuk kemudian mengocoknya dengan hati-hati selama 1-2 menit. Sebelum meneteskan ke dalam kamar hitung terlebih dahulu kita membersihkan kamar hitung dan kaca penutup harus rapat dengan loji. Dengan kemiringan 30-35º, memasukkan pipet ke dalam kamar hitung dan membiarkannya selama 2-3 menit agar sel- sel darah mengendap dan tetap tempatnya. Setelah itu memeriksa sampel darah tersebut di bawah mikroskop. Dengan perbesaran 40 x.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Menentukan Kadar Hemoglobin

Hasil

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 6. Hasil Pengamatan Kadar Hemoglobin

LABORATORIUM FISIOLOGI TERNAK DASAR

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2010

Metode Sahli (g/dl)

Kertas Skala (%)

90/100

110/100

70

70

Sumber : Data Hasil Praktikum Fisologi Ternak Dasar, 2010.

Berdasarkan data pada tabel 6 bahwa nilai Hb darah yang dijadikan sampel Jika menggunakan skala Hb nilainya pada pria dan wanita nilainya sama yaitu 70%. Dan pada metode sahli pada pria adalah 90 gr/dl dan wanita adalah 110 gr/dl. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa kadar Hb darah yang menjadi sample tidak normal. Hal ini sesuai dengan pendapat Anonima (2010) yang menyatakan bahwa, kadar hemoglobin (Hb) normal pada manusia khususnya pria (♂) adalah 13 – 18 g/dl sedangkan pada wanita (♀) 11,5 – 16,5 g/dl. Kadar Hemoglobin dalam darah seseorang jumlahnya dapat bervariasi disebabkan oleh beberapa faktor seperti usia, jenis kelamin, aktifitas dan lain-lain.

Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1992) yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin pada makhluk hidup adalah jenis kelamin, spesies, jumlah sel darah merah, kondisi kesehatan individu, dan ketinggian tempat tinggal. Bahwa seseorang yang berada pada tempat yang tinggi misalnya daerah pegunungan, jumlah kadar hemoglobinnya cenderung lebih banyak dibandingkan dengan orang yang berada di daerah yang tempatnya lebih rendah atau datar.

Menurut Sonjaya (2010) bahwa hemoglobin adalah gabungan antara hemo dan globin yang mempunyai berat molekul 65.000. Hemo mempunyai 4% dari berat hemoglobin yang memberikan derajat kemerahan eritrosit. Hemoglobin disebut juga sebagai pigmen respirasi karena mempunyai peranan dalam mengangkut gas yang terlibat dalam proses respirasi yaitu O2 dan CO2. Hemoglobin adalah pigmen respirasi yang terdapat dalam eritrosit yang terdiri atas Hem dan Globin yang berperan dalam mengikat O2 untuk warna darah merah.

Menurut Frandson (1992) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin pada makhluk hidup adalah jenis kelamin dimana pria jumlah hemoglobinnya lebih besar dari wanita, dimana jumlah sel darah merah pada pria lebih banyak yakni sekitar 5.440.000/mm³ dibanding dengan jumlah sel darah merah pada wanita yakni ± 4.800.00/mm³, faktor kedua adalah spesies, jumlah sel darah merah, ketinggian tempat dimana untuk menjaga keseimbangan tubuh dan kadar Hemoglobin stabil, maka sum-sum memproduksi sel darah merah lebih banyak dibandingkan dengan orang tinggal di dataran rendah, dan kondisi kesehatan individu dimana jumkah hemoglobin biasanya dibawah atau 30 atau sekitar 5 gr per ml darah. Selain dipengaruhi oleh diferensiasi zat besi gizi tekanan kurang baik, kekurangan asam folat, vitamin C yang kurang, kekurangan vitamin B12 dan hemolisa sel darah merah dapat menyebabkan anemia.

Menurut Anonimb (2010) bahwa hemoglobin adalah metaloprotein pengangkut oksigen yang mengandung besi dalam sel merah dalam darah mamalia dan hewan lainnya. Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein, dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi. Mutasi pada gen protein hemoglobin mengakibatkan suatu golongan penyakit menurun yang disebut hemoglobinopati, di antaranya yang paling sering ditemui adalah anemia sel sabit dan talasemia. Fungsi Hemoglobin dalam darah adalah mengangkut Oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh (jaringan) dan sebaliknya untuk mengangkut Karbon dioksida dari seluruh tubuh (jaringan) ke dalam paru-paru.

B. Nilai Hematokrit

Hasil

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 7. Hasil Pengamatan Nilai Hematokrit

LABORATORIUM FISIOLOGI TERNAK DASAR

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2010

Kelompok

Mikrohematokrit

I

42

35

II

52

-

III

-

53

IV

40

-

V

40

40

JUMLAH

174

128

RATA-RATA

43,5

42,7

Sumber : Data Hasil Praktikum Fisiologi Ternak Dasar, 2010.

Berdasarkan data pada tabel 7 bahwa Nilai hematokrit rata-rata pada pria sebesar 43,5% dan pada wanita sebesar 42,7%. Hal ini menunjukkan bahwa baik pria maupun wanita memiliki nilai hematokrit yang normal. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1992) bahwa nilai hematokrit normal pada laki-laki (♂) adalah 40-50%, sedangkan pada wanita adalah 35-45%.

Hal tersebut juga didukung oleh pendapat Anonimc (2010) bahwa nilai normalnya berkisar dari 40-54% pada laki-laki
dan 37-47% pada wanita. Nilai hematokrit menunjukkan kekentalan darah
yang sebanding dengan jumlah oksigen yang dibawanya.
Persentase
hematokrit yang rendah juga merupakan pertanda anemia.

Menurut Sadikin (2001) bahwa hematokrid adalah persentase volume seluruh SDM yang ada di dalam darah yang diambil dalam volume tertentu. Untuk tujuan ini, darah diambil dengan semperit dalam suatu volume yang telah ditetapkan dan dipindahkan ke dalam suatu tabung khusus berskala hematokrit. Untuk pengukuran hematokrit ini, darah tidak boleh dibiarkan menggumpal sehingga harus diberi antikoagulan.setelah tabung tersebut dipusingi dengan kecepatan dan waktu tertentu, maka SDM akan mengendap. Hematokrid berfungsi untuk memberikan gambaran umum, apakah konsentrasi SDM seseorang cukup atau tidak. Akan tetapi, bila terjadi anemia, kerap kali diperlukan informasi lebih lanjut, bagaimana konsentrasi rata-rata hemoglobin/SDM, bagaimana volume SDM, apak kecil (makrositik), biasa (normatik) atau lebih besar dari biasa (makrositik).

Menurut Anonimd (2010) bahwa nilai hematokrit merupakan cara yang paling sering digunakan untuk menentukan apakah jumlah sel darah merah terlalu tinggi, terlalu rendah atau normal. Hematokrit sejatinya merupakan ukuran yang menentukan seberapa banyak jumlah sel darah merah dalam satu mililiter darah atau dengan kata lain perbandingan antara sel darah merah dengan komponen darah yang lain. Hematokrit dapat dihitung dengan mengambil sampel darah pada jari tangan atau diambil langsung pada vena yang terletak pada lengan.Sel darah merah yang terdapat dalam sampel kemudian diendapkan dengan cara memutarnya menggunakan alat sentrifugal. Endapan ini kemudian di presentasekan dengan jumlah keseluruhan dari darah yang terdapat dalam tabung, nilai inilah yang dinamakan nilai hematokrit.

C. Menghitung Sel Darah Merah

Hasil

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 8. Hasil Pengamatan Sel Darah merah

LABORATORIUM FISIOLOGI TERNAK DASAR

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2010

Preparat = Darah Manusia

Dik: R1 = 130

R2 = 169

R3 = 241

R4 = 204

R5 = 166

N = R1 + R2 + R3 + R4 + R5

N = 130 + 169+ 241 + 204 + 166

N = 910

SDM = N x 10.000

SDM = 910 x 10.000

SDM = 9.100.000

Sumber : Data Hasil Praktikum Fisiologi Ternak Dasar, 2010.

Berdasakan data pada tabel 8 dapat diketahui bahwa jumlah sel darah merah sampel (darah Manusia) sebanyak 9.100.000/mm3 dinyatakan tidak normal karena jumlah sel darah merah normal pada manusia adalah 4.000.000/mm3 – 5.250.000/mm3. Hal ini sesuai dengan pendapat Anonime (2010) yang menyatakan bahwa jumlah sel darah merah (Sdm) normal pada pria (♂) yaitu 5.200.000/mm3 dan pada wanita (♀) yaitu 4.700.000/mm3, dimana setiap sel darah merah manusia memiliki diameter sekitar 7,5 μm dan tebal 2 μm

Menurut Frandson (1992) bahwa faktor-faktor yang menyebabkan peningkatan dan penurunan jumlah sel darah merah pada seseorang dapat terjadi karena orang tersebut menderita anemia atau hemokonsentrasi. Hemokonsentrasi disebabkan oleh penurunan jumlah air yang diminum atau banyaknya jumlah air yang diminum. Sedangkan anemia disebabkan oleh karena sel darah yang fungsional atau hemoglobin jauh di bawah normal.

D. Menghitung Jumlah Sel Darah Putih

Hasil

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 9. Hasil Pengamatan Sel Darah Putih

LABORATORIUM FISIOLOGI TERNAK DASAR

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2010

Preparat = Darah Manusia

W1 = 247

W2 = 196

W3 = 182

W4 = 213

N = W1 + W2 + W3 + W4

N = 247 + 196 + 182 + 213

N = 838

SDP = N x 50

SDP = 838 x 50

SDP = 41.900

Sumber: Data Hasil Praktikum Fisiologi Ternak, 2010.

Berdasakan data pada tabel 9 dapat diketahui bahwa jumlah sel darah putih pada manusia yaitu 41.900/mm3. Dari data di atas diketahui bahwa jumlah sel darah putih pada manusia di atas normal, karena jumlah sel darah putih yang normal pada manusia berkisar antara 5000/mm3 - 7000 /mm3. Hal ini sesuai dengan pendapat Anonimf (2010) bahwa jumlah leukosit pada pada manusia khususnya orang dewasa kira-kira 7000 sel darah putih per millimeter kubik darah. Persentase normal berbagai jenis sel darah putih (leukosit) meliputi Granulosit (Neutrofil 62,0%, Eosinofil 2,3%, Basofil 0,4%) dan Agranulosit (Limfosit 30,0%, Monosit 5,3%) yang total keseluruhan 100%.

Menurut Sonjaya (2010) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah sel darah putih adalah jenis kelamin, dimana pria mempunyai jumlah sel darah merah lebih banyak dibandingkan dengan jumlah sel darah putih, aktivitas juga mempengaruhi jumlah sel darah putih, meningkatnya jumlah sel darah putih umumya merupakan pertanda adanya infeksi, feukofenia atau berkurangnya.

Menurut Anonimg (2010) bahwa sel darah putih jauh lebih besar daripada sel darah merah. Jumlahnya dalam setiap 1 cm kubik darah adalah 4.000 sampai 10.000 sel. Tidak seperti sel darah merah, sel darah putih memiliki inti (nukleus). Sebagian besar sel darah putih bisa bergerak di dalam aliran darah, membuatnya dapat melaksanakan tugas sebagai sistem ketahanan tubuh. Sel darah putih adalah bagian dari sistem ketahanan tubuh yang terpenting. Leukosit bertanggung jawab terhadap sistem imun tubuh dan bertugas untuk memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh, misal virus atau bakteri. Leukosit bersifat amuboid atau tidak memiliki bentuk yang tetap. Orang yang kelebihan leukosit menderita penyakit leukimia, sedangkan orang yang kekurangan leukosit menderita penyakit leukopenia. Fungsinya adalah memerangi bakteri, mengatur pelepasan zat kimia saat pertempuran, dan membuang sisa-sisa sel yang rusak. Basofil, yang menyususn 1% sel darah putih, melepaskan zat untuk mencegah terjadinya penggumpalan darah di dalam pembuluhnya. 20 sampai 30% kandungan sel darah putih adalah limfosit, tugasnya adalah menghasilkan antibodi, suatu protein yang membantu tubuh memerangi penyakit. Monosit bertugas mengepung bakteri, kira-kira ada 5 sampai 10% di dalam sel darah putih.

KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan praktikum mengenai Darah III dan IV, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

a. Kadar Hemoglobin

Kadar hemoglobin sampel dengan menggunakan skala Hb nilainya pada pria dan wanita nilainya sama yaitu 70%. Dan pada metode sahli pada pria adalah 90 gr/dl dan wanita adalah 110 gr/dl. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa kadar Hb darah yang menjadi sample tidak normal.

b. Nilai Hematokrit

Nilai hematokrit rata-rata pada pria sebesar 43,5% dan pada wanita sebesar 42,7%. Hal ini menunjukkan bahwa baik pria maupun wanita memiliki nilai hematokrit yang normal.

c. Perhitungan Sel Darah Merah

Jumlah sel darah merah sampel (darah Manusia) sebanyak 9.100.000/mm3 dinyatakan tidak normal.

d. Perhitungan Sel Darah Putih

Jumlah sel darah putih pada manusia yaitu 41.900/mm3dan dinyatakan tidak normal.

Saran

Agar alat- alat praktikum jumlahnya bisa ditambah agar praktikum bisa berjalan dengan lebih lancar.

DAFTAR PUSTAKA

Anonima. 2010. Hemoglobin. http://id.wikipedia.org/wiki/Hemoglobin. Diakses pada 7 Maret 2010.

Anonimb. 2010. Fungsi Hemoglobin. http://info-sehat-kita.blogspot.com . Diakses pada 7 Maret 2010.

Anonimc. 2010. Hematokrit. http://www.blogdokter.net /2010/01/13/hematokrit. Diakses pada 7 Maret 2010.

Anonimd. 2010. Nilai Hematokrit. http://www.blogdokter.net. Diakses pada 7 Maret 2010.

Anonime, 2010. Sel Darah Merah. http://liemachmad.wordpress.com/ . Diakses pada 7 Maret 2010.

Anonimf. 2010. Leukosit. http://sister-blogspot.com . Diakses pada 7 Maret 2010.

Anonimg. 2010. Sel Darah Putih. http://wapedia.com . Diakses pada 7 Maret 2010.

Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi 4. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sadikin, M. 2001. Biokimia Darah. Widya Medika. Jakarta.

Sonjaya, H. 2010. Bahan Ajar Fisiologi Ternak Dasar. Fakuiltas Peternakan-Universitas Hasanuddin. Makassar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar